1 Maret 2012

di malam kala lampu jalanan berkelip, deru mobil tak berhenti sampai entah kapan, begitu juga kereta yang melaju menerobos kota. 

sinar matahari tak bertanya ada apa hari ini, tapi aku yang bertanya tentang sebuah tanya yang tidak pernah terlontar. Hanya omong kosong dan harga diri berlebih yang terlihat. 

Mungkin itu hanya selimut, hanya kamuflase dari dinding rapuh yang kau sentuh lalu rontok. 

dan aku kembali bertanya, buat apa terus ditutupi, kalau tembok itu sudah kau hancurkan. 

malam masih berlanjut... 
hingga sejam lagi. 
sampai fajar merenggut gelap yang indah ini. 
secepat dan semudah harga diri dan komplikasi pikiran merebut kau. 

- kuala lumpur dalam sebuah malam yang sunyi. 
(...dan kau hanya beberapa menit dariku) 

6 Desember 2011

Kamu masih bersamanya, di bawah derai hujan, di bawah langit sore. beberapa ribu kilometer di bawah sana. menunggu adalah penyakit yang diderita beberapa tahun ini. Aku menunggu.
menunggu apa?
menunggu sampai seluruh omong kosong ini berlalu.
takdir punya jalannya sendiri.
aku berharap dalam doa kalau alur kita akan bertabrakan suatu hari nanti.

tapi malam ini, kamu masih memeluknya. di bawah naungan bulan penuh.

24 Oktober 2011

Absen dan Behind The Scene Film pendek saya

okay. pertama. sudah berapa lama saya ngak posting? dari april sampai akhir oktober. Anyway, dengan tingginya absensi saya di ranah maya bernama Blogspot ini, saya ngak begitu mengharapkan saya masih punya follower selain orang-orang yang saya kenal secara personal. kalau memang ada....
please, leave me a message :). 

Anyway, belakangan ini saya sedikit beralih profesi ke dunia film. yup. FILM. Gambar bergerak. Motion Picture. mungkin karena, saya pikir dunia ini ga begitu beda jauh sama dunia penulisan... at least sama-sama butuh daydreaming, ngayal dan ngayal.

anyway, saya ngak mau kalah sama mbak Mazaya yang ngepost video di blognya. maka dari itu, saya kasih hadiah sedikit deh, Behind the Scene/Teaser Film Pendek terbaru saya: 'Kill 'EM All'.


ENJOY :)

12 April 2011

Sekotak memori.

Dinda,
Malam ini aku melihatmu lagi,
yang direka ulang oleh jutaan piksel,
yang ku rekam dan ditampilkan lagi.
Kamu dibalut kebaya coklat, tersenyum dan bergelora.
Kamu cemerlang, gemilang seperti yang ku ingat
malah, lebih dari yang ku bayang.
Tapi kamu jauh. Di kota kembang sana.
Kamu tahu? jarak, ruang dan waktu kita berbeda.
Aku terus berdoa supaya takdir kita bertabrakan
seperti tubrukan neutron bintang.
Aku berdoa supaya nasib kita berbentrokan
                                        dan kita, bergabung.

4 Februari 2011

kamu lagi, dari Tokyo.

Di Tokyo dia menarikku melirik, beberapa bulan menjelang entah berapa hati yang dia pecahkan dan sepasang gadis aku rasakan. Gravitasi kami, menuliskan ulang hukum magnet bahwa dia kutub yang sama bisa, dalam kondisi dan situasi yang pas saling menarik. Gaya tarik itu aku rasakan, terpikirkan dalam sadar dan termimpikan dalam tidur.

Sampai aku disini, di negara tempat temanku berasal, tempat mantan perempuan itu berasal. Bukan hanya itu yang kami bagi, tapi juga selera musik, filosofi, sastra, seni. Douche. Douche on the loose.

Aku menemukannya disana, duduk sendiri di sebuah klub di daerah yang sedang hip di kuala Lumpur, Changkat. Bir di tangan, dia bedakan diri dari gadis biasa yang menggenggam kaki gelas cantik berisi Martini. Botol hijau itu menyatu dengan kulitnya, sangat pas buatnya, berikut rokoknya, rokok putih lightsnya, bukan sekedar permen yang para perempuan itu bulang menthol. Semakin mencolok saja perempuan ini di persepsiku.

Ini adalah pesta ulang tahun teman lokal ku, satu klub dia tutup buat pesta gilanya dan sekarang dia sibuk dengan Woan Mei Lin. Aku ambil short glass berisi whisky dengan ginger ale, mengikuti jejak perempuan itu yang melangkah keluar menuju patio. Takutku aku genggam, seerat pegangan pada gelas whisky ini.

'Hai ed,'

Dia berpaling, memutar setengah badannya dengan cepat, bibirnya segera membentuk lingkaran waktu melihat aku. Kata pertamanyapun dimulai dengan lingkaran

'Oh,'


Dengan kikuk dia mencoba bersalaman denganku, tapi kedua tanganku telah terbuka, menggapai pundak lalu punggungnya.  Dan dia membalas pelukan singkat itu. Sangat nyaman pelukannya, wangi parfumnya, fantasy, mendera hebat penciuman segera menghantar memoriku kembali ke nippon sana.


'Apa kabar?' Tembakku cepat, sebelum hawa hangat pelukan tadi kembali dibekukan oleh canggung.

‘Baik,” jawabnya mengangguk-angguk, “kamu?”

“Never been better,” tentu, kamu ada didepanku, jantungku meletup-letup seperti merapi, sistem syarafku seperti lava, menaikan temperatur mendekati steip sampai otakku berhenti bekerja, “kamu.. ngapain disini?”

“Minum, memberi selamat ulang tahun dan di luar sini sepi,”

“Maksutku. Di negara ini,”

 “Oh,” Lingkaran kembali membentuk bibirnya, “kerja,”

Aku mengangguk, merasakan pelan-pelan percakapan mulai membeku, aku bisa rasakan basi merayap dan mulai menghancurkan topik pembicaraan yang serentan susu diluar kulkas. Tatapan perempuan itu mulai merayap lagi pada temanku yang semakin sibuk dengan Woan Mei Lin. 
 
Kedua bola matanya tidak berubah, mungkin sedikit berair tapi itu bisa jadi karena asap rokok, warna hijau itu menyala-nyala disana, seperti yang selalu aku ingat. Yang berubah adalah otot disekitar matanya, refleks tubuhnya yang tidak bisa berbohong. Perempuan ini, membangun tembok sebesar yang di cina tapi apa yang dibaliknya adalah kertas setipis rambut yang rentan akan serangan.

Seranganku, boleh dibilang cukup berhasil, setidaknya melumpuhkan pandangannya dari mantannya. Sekarang adalah botol kelimanya, gelas ketiga ku dan pembicaraan kami kembali kepada dunia sastra, lukis dan drama. Dalam keadaan setengah mabuk itu, kami berjanji untuk pergi ke teater, pergi ke galeri dan janji kencan yang hati kecilku sendiri meragukan realisasinya. Topik beralih setelah tawa terakhirnya.

“Sudah dengar kan kamu?” tukasnya, melepaskan sebuah pandangan lagi pada mantannya seperti rudal balistik, tatapannya mengunci sasarannya sampai target berhasil dilumpuhkan, “Politik. Cinta itu politik, hubungan itu politik,”

“Aku tidak percaya begitu,” timpalku, menebar pandangan ke sekeliling, patio yang sepi hanya beberapa orang yang terlalu mabuk berakhir disini, sementara yang masih merasa jiwanya muda masih sibuk menghentak-hentak badan, kepala dan liver mengikuti musik yang diimpor langsung dari Ibiza. Seorang perempuan muntah, muntah dan muntah di pojok patio. Kamipun mabuk walaupun liver kami masih kuat mengurai air dosa lebih banyak lagi, tapi kami saling mabuk. Aku mabuk dirinya, sementara dia mabuk karena....

Ah, sudahlah. Aku kembali membahas pemusik-pemusik Eropa biar perhatiannya kembali beralih para diriku. Malam ini sudah pasti gagal, aku akan pulang sendirian atau kalau beruntung mengantarnya balik, tapi....

What the hell

Aku tarik bahunya berbisik pada telinganya. Aku berjudi dengan kesempatan, waktu, nasib dan alkohol. kalau takdir memang tidak menginginkan, aku siap melihat gelengan kepalanya.

Tapi.

Tidak. Dia menangguk, aku amit tangannya menuju hatchback hitamku dan menuju unitku di lantai dua puluh.